Senin, 19 Desember 2022

GURU PENGGERAK ANGKATAN 4 ITU BERNAMA LISTIAN UTAMA

Listian utama lahir di pekon ampai, Tanggal 24 Maret 1992 dari pasangan suami istri Ibu Helmaida dan Bapak Saleh. Saat ini ia sudah memiliki keluarga kecil yang ia bina sejak tahun 2019 bersama istrinya yang bernama Lulu Alfullaila, Dari pernikahannya tersebut ia telah dikaruniai seorang putra yang bernama Laksana Aly Arasy Utama. Pendidikannya diawali dengan menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN 1 Pekon ampai (1998-2004), Kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Cukuh balak yang di selesaikan pada tahun 2007, Sekolah Menengah Atas (SMA) ia tempuh di SMAN 1 Gading Rejo Kabupaten Pringsewu (2007-2010). Pendidikan tinggi baru ia tempuh pada tahun 2014 dan diselesaikan pada tahun 2018, Perjalanan untuk menempuh sarjana memang sempat tertunda beberapa tahun karena beberapa faktor. Sempat menunda pendidikannya setelah lulus SMA selama satu tahun ia lalu menempuh pendidikan Diploma Dua (DII) dengan program studi ilmu perpustakaan di Universitas Terbuka tahun 2011. Saat itu juga ia memulai karirnya sebagai tenaga kependidikan, Dengan mengabdikan diri sebagai tenaga pustakawan di SDN 1 Pekon ampai kecamatan limau Kabupaten Tanggamus. Setelah menjalani hari-hari sebagai tenaga kependidikan membuatnya menjadi nyaman dan terdorong untuk terlibat langsung sebagai tenaga pendidik yang bercengkrama bersama siswa didalam kelas. Namun ia sadar bahwa kualifikasi pendidikannya yang hanya Diploma belum cukup mumpuni untuk menjadi seorang pendidik, Sehingga pada tahun 2014 ia memutuskan untuk kembali berkuliah dengan konsentrasi bidang pendidikan agama islam di Universitas Muhammadiyah Lampung. Dua tahun dalam perjalanan pendidikan strata satu kemudian ia mendapat tawaran untuk mengisi kekosongan guru pendidikan agama islam di SDN 1 Antar Brak. Berbekal sedikit ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan selama dibangku perkuliahan ia menjalani aktifitasnya sebagai guru pendidikan agama islam sejak tahun 2016 di SDN 1 Antar Brak. Sejak saat itulah perjalanan karirnya dimulai. Setelah menjadi tenaga pendidik ia mulai terlibat aktif dalam Kelompok Kerjsa Guru (KKG) di kecamatan Limau. Tak sampai disitu ia juga menjadi koordinator bagi guru pendidikan agama islam di wilayah kecamatan Limau untuk membimbing guru-guru senior dalam menyelesaikan administrasi guru seperti sistem informasi dan administrasi guru agama (SIAGA) dan Education Management Information System (EMIS). Dalam organisasi lain ia juga aktif sebagai anggota Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAII), Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis - Persatuan Guru Republik Indonesia (APKS - PGRI) Kabupaten Tanggamus, Asosiasi Tenaga Pustakawan Sekolah (ATPUSI) Tanggamus, dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Tanggamus. Dan diluar keprofesian ia bergerak bersama Forum Relawan Literasi tanggamus, Forum Taman Bacaan Masyarakat Kabupaten Tanggamus, Komunitas Tanggamus Membaca, Pegiat Literasi Lampung, dan Komunitas-komunitas menulis di Kabupaten Tanggamus dan Provinsi Lampung. Keaktifannya dalam bidang literasi membuatnya aktif dalam berbagai kegiatan bersama dengan para relawan literasi diantaranya membuka lapak baca pada aganda-agenda tertentu, mendongeng bersama anak-anak jenjang pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar, dan mengikuti pelatihan-pelatihan. Pada tahun 2021 ia menjadi juara ketiga menulis fiksi dalam memperingati hari guru nasional dan hari ulang tahun persatuan guru republik indonesia ke 76 dengan judul pandemi membunuh mimpi, beberapa karya karya lainnya didalam buku antalogi yaitu tersesat dirumah adat (2021), Puisi akrostik september (2021), Ikhlas berbuah manis (2022), Kacamata emak (2022), Wanita bermata cokelat (2022), Kisah si sanak hakhuk (2022). Prestasi lain yang pernah ia dapat adalah pada awal tahun 2022 ia terpilih menjadi salah satu pegiat literasi yang di seleksi oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung untuk menumbuhkembangkan literasi di daerah 3T yaitu Kabupaten Mesuji, Pada tahun yang sama ia juga terpilih menjadi jawara internet sehat kominfo pusat. Jawara internet sehat adalah pelopor literasi digital untuk mensosialisasikan tentang pencegahan hoax dan perlindungan data peribadi di provinsi Lampung. Menjadi seorang guru baginya adalah sebuah panggilan hati, yang awalnya ia tidak terpikirkan sama sekali untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik namun kini ia sudah terlanjur nyaman dan menjiwai sehingga ia merasa jika hanya sebagai seorang guru saja yang tidak memiliki kompetensi dan keahlian maka ibarat sebuah hamparan pasir di tepi pantai, semua akan terlihat sama baik dari warna maupun ukurannya. Sehingga kita perlu menjadi sebuah berlian di hamparan pasir tersebut agar kita bisa terlihat berbeda dari yang lainnya. Perbedaan itulah yang akan membuat kita menjadi seorang motivator, pendorong, dan juga sebagai seorang tauladan. Dari filosofi itulah ia tidak pernah puas dengan apa yang telah didapatkannya sehingga ia mencoba hal-hal baru untuk menambah pengalaman dan meng-update dan membagi ilmu-ilmu yang ia miliki. Salah satunya adalah menjadi guru penggerak. Sejak di rilisnya program pendidikan guru penggerak ia mendaftar menjadi Calon Guru Penggerak angkatan 1 namun ia gugur pada seleksi tahap 2. Kegagalan tersebut tidak menjadikannya patah semangat, Ia justru mengevaluasi kekurangan-kekurangannya sehingga ia perbaiki pada seleksi calon guru penggerak angkatan 4. Dengan upaya dan kegigihannya akhirnya ia lulus menjadi calon guru penggerak angkatan 4 dan menjalani program pendidikan selama 9 bulan. Ini merupakan pengalaman baru yang sangat berkesan baginya. Selain bertemu dengan rekan-rekan guru yang memiliki semangat yang sama ia juga mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah. Menjadi guru penggerak adalah implementasi dari filosofi pendidikan Kihajar Dewantara yang mengatakan bahwa anak-anak yang terlahir bukan sebagai kertas kosong namun kertas dengan garis-garis samar, Oleh karena itu kita sebagai guru tugasnya adalah menebalkan garis-garis tersebut agar terlihat nyata, Demikian pula dalam menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan interaktif agar pembelajaran berpusat pada murid untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Selain itu guru penggerak dilatih untuk menjadi seorang pemimpin baik memimpin dirinya sendiri, memimpin siswa, memimpin rekan-rekan guru dan juga memimpin komunitas praktisi dan juga berkolaborasi dalam membuat tujuan serta visi misi sekolah demi terwujudnya merdeka belajar. Pengalaman-pengalamannya dalam memgikuti pendidikan calon guru penggerak menjadi modal untuk merefleksikan diri dari apa yang sudah dilakukan selama ini agar lebih baik dan bermanfaat. Semoga pemerintah tetap menjadikan pendidikan guru penggerak sebagai program unggulan agar kompetensi guru-guru di indonesia menjadi lebih baik lagi. Salam guru penggerak, Salam merdeka belajar. Guru penggerak, Indonesia maju!

Tidak ada komentar:

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGU PERTAMA